Foto yang “berbicara”

Mungkin udah sering ngedenger ato tau bahwa ada istilah “sebuah foto setara dengan seribu kata-kata”, selalu menjadi slogan manakala kita memberi makna pada sebuah foto. Padahal, slogan itu hanya benar kalo fotonya dibuat dengan benar. Foto yang dibuat dengan salah malah akan menimbulkan kebingungan bagi yang melihatnya. Alih-alih memberi informasi, foto yang “tidak berbicara” malah tak setara dengan sebuah kata apapun.

Tidaklah mudah membuat foto yang bisa berbicara. Banyak pedoman dan tolok ukur untuk mendapatkan hal itu. Yang pasti, pada beberapa kondisi, foto hanya bisa berbicara kepada kelompok tertentu saja, bukan semua orang.

Hal tersebut bisa diakibatkan karena perbedaan bahasa dan kondisi budaya yang berbeda-beda. Meskipun telah diberikan teks (caption) pada foto tersebut, bukan tidak mungkin orang yang berbeda bahasa ato malah negara masih kebingungan antara sinkronisasi foto yang diambil dengan teks yang terdapat dalam foto atao malah caption dibawah foto. Biasanya foto jurnalistiklah yang bisa sangat kuat dan sangat berbicara.

Tapi ada juga foto yang bisa berbicara secara universal yang tidak perlu banyak menjelaskan dengan caption foto, audiens bisa langsung melihat dan mengerti tanpa butuh banyak penjelasan, karena foto itu telah menjelaskan dirinya sendiri. Foto bisa menjadi sangat kuat karena adanya ‘kerjasama’ ato ‘interaksi’ antara aksen dan latar belakang, ato objek dan latar belakang.

Dalam dunia jurnalistik (menurut saya sih dalam dunia fotografi), seorang fotografer seharusnya sudah mempunyai foto dalam benaknya sebelum rana/shutter dijepretkan. Dengan kata lain, sang fotografer seharusnya sudah tau adanya adegan ini sebelum memotret, ato minimal telah memvisualisasikan secara imaginer foto yang akan diambil di lokasi tersebut. Karena pemotretan adalah masalah eksekusinya saja.

Membuat foto yang berbicara membutuhkan beberapa hal penting.

1. Fotografer harus menguasi alatnya dengan baik. Berangkatlah memotret dengan baterai penuh dan kartu memori kosong, bukan sebaliknya.
2. Fotografer harus memahami situasi yang akan direkamnya ke dalam rekaman dua dimensi. Fotografer harus tau bahwa realitas tiga dimensi dengan pelengkapnya (suara angin, bebauan, dan sebagainya) akan direkam dalam realitas dua dimensi tanpa pelengkap sama sekali.
3. Jangan pernah berangkat memotret dengan kepala kosong. Foto harus sudah jadi, minimal sebagai konsep, sejak sang fotografer berangkat untuk memotret.

Akan jauh lebih baik manakala foto yang berbicara tersebut tidak melupakan nilai estetikanya. Karena sebuah foto bisa berbicara melalui pesannya ataupun keindahannya.Bahkan kesunyian pun bisa direkam oleh sebuah foto tanpa terasa hambar dan tetap indah, karena bagaimana pun foto adalah sebuah karya yang berbicara lewat mata.

(sumber tulisan : Tips & catatan Arbain Rambey, Kompas Selasa 2 Mei 2010)

  1. terima kasi bro atas tips” nya.

  1. June 2nd, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: