Aceh chapter I -Pesona Kota yang sempat terluka akibat Tsunami-

Flashback : Jam 06.00 pagi di tanggal 26 des 2004 itu tiba-tiba Aceh dikejutkan oleh guncangan gempa besar dengan episentrum di tengah laut sebesar 9,3 skala richter yang menimbulkan gelombang Tsunami yang paling besar yang pernah terjadi di Indonesia…dalam hitungan menit ribuan orang menjadi korban dan dalam radius beberapa kilometer wilayah daratan Aceh tenggelam dalam sapuan besar gelombang laut.

Selain menimbulkan kerusakan yang luar biasa, kejadian ini pun mau tidak mau mengubah geografis sepanjang bibir pantai di wilayah Aceh, di Ulee Lheu bibir pantai malah berubah masuk kurang lebih 1 km memakan daratan. Kejadian ini pun kemudian memberikan dampak trauma yang cukup panjang bagi masyarakat Aceh dan paranoid bagi masyarakat Indonesia. Kejadian yang mengguncangkan ini seolah menghentak kesadaran kita bahwa kita, manusia telah bersikap begitu arogan dalam memperlakukan alamnya, dan ketika alam bergerak, kita hanya bisa pasrah dan baru mengingat Yang Maha Kuasa tentang kekerdilan kita sebagai mahluk-Nya. Bagaimanapun selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa.

Pada tahun 2010 akhirnya saya berkesempatan menginjakkan kaki di tanah Aceh dan menyaksikan sisa-sisa kedahsyataan Tsunami, termasuk kengerian dan keajaiban-keajaibannya.Salah satunya adalah kuburan massal korban tsunami dan sebuah mesjid (cari ini) di bibir pantai Ulee Lheu.

Seperti halnya wilayah Indonesia yang lain, Aceh merupakan daerah yang indah dan mempesona. Laut yang membentang menawarkan keindahan yang memikat dan memiliki karakter-karakter yang berbeda. Hanya sebagian kecil saja yang memang sempat dikunjungi, tapi itu tidak merubah kesan saya terhadap keindahan pantai di Aceh.

Mendarat di Bandara Udara Sultan Iskandar Muda Aceh, bandara yang telah melalui facelift menjadi salah satu bandara modern di pulau Sumatera ini, hawa panas langsung menyambut, setelah mengambil barang-barang dari bagasi, perjalanan berikutnya adalah check in dulu di penginapan sebelum mulai jalan menyusuri kota Banda Aceh. Telah banyak perubahan yang terjadi setelah kejadian besar tersebut, tapi banyak juga yang tidak berubah secara signifikan, tempat ngopi tetap menjamur di kota Aceh, mungkin salah satu kota yang sangat banyak tempat ngopinya adalah Aceh, nyaris di setiap ruas jalan kita bisa menemukan tempat ngopi. Unik memang, kecintaan orang-orang Aceh pada budaya ngopi begitu sangat besar, padahal tidak banyak menu yang ditawarkan di tempat ngopi ini, hanya minuman hangat, makanan ringan khas Aceh dan tentu saja kopi. saat itu sudah banyak tempat ngopi yang menawarkan fasilitas wi-fi, dan ini membuat para tamu semakin betah untuk berlama-lama menikmati kopi.

Salah satu makanan yang berkesan di Aceh adalah ‘ayam tangkap‘, ayam goreng yang ditaburi oleh daun (lupa nama daunnya :p) ini sangat gurih dan renyah, ditambah sambal khas Aceh, ayam tangkap ini jadi bikin saya ketagihan menikmatinya selama di Aceh.

Selama di kota Banda Aceh ini sudah pasti jejak-jejak peninggalan Tsunami merupakan tujuan yang harus dikunjungi:
PLTD apung, kapal besar pembangkit listrik dengan panjang 63 m dan berat ribuan ton itu terbawa masuk ke dalam kota dan ‘berlabuh’ di atas sebuah komplek perumahan di desa Punge Blangcut dan menimpa beberapa rumah dibawahnya…hhhhh…akhirnya saya ga ragu kalo gelombang pasang saat itu sangat besar…dan sekarang kapal itu berkarat dan membisu setelah menjadi saksi kedahsyatan gelombang tsunami saat itu.
“Bahtera Nuh” Kapal nelayan yang kemudian dijadikan tugu Tsunami di Gampong Lampulo, kapal ini juga kemudian ‘berlabuh’ di atas rumah di sebuah komplek perumahan.
Museum Tsunami atau “Rumoh Aceh Escape Building Hill” yang terletak di tengah kota Banda Aceh (hanya berjarak 10 menit jalan kaki dari Mesjid Agung Baiturrahman) yang menyimpan kengerian dari bencana alam terbesar di Indonesia tersebut. Bangunan kontemporer yang menyimpan dokumentasi kedahsyatan bencana Tsunami itu mempunyai sebuah ruangan yang menarik tapi mencekam, yaitu “Ruangan Kesedihan” atau ada bilang juga “The Light of God“, ruangan yang berbentuk cerobong itu dibiarkan gelap gulita dan hanya satu cahaya yang masuk dari bagian atasnya saja, dan bila kita melihat kebagian atas dari ruangan itu maka akan terlihat sebuah lingkaran dengan tulisan “ALLAAH“, menurut orang museum, ruangan itu merepresantasikan suasana mencekam saat itu yang dialami oleh kebanyakan korban Tsunami yang selamat, yaitu suasana yang gelap dan mencekam dan hanya ada satu kepasrahan yang bisa diingat, yaitu kepada “ALLAAH” saja. Jujur saja, ruangan ini bisa bikin kita merinding.

Tidak sah rupanya kalau ke Aceh tapi tidak berkunjung ke Mesjid Agung Baiturrahman yang pada saat Tsunami terjadi seolah-olah dilewat oleh terjangan air yang mengalir deras masuk ke kota Banda Aceh. Musti diingat, jangan sampai pada saat setelah adzan berkumandang dan shalat berjamaah sedang dilaksanakan di dalam mesjid, kita berkeliaran di pelataran mesjidnya, bisa dipastikan anda pasti diusir oleh penjaga mesjid😀. Baiknya tunggu sampai shalat selesai baru bisa kita masuk untuk menikmati kemegahan mesjid yang menjadi ikon kota yang terkenal dengan sebutan serambi mekkah tersebut. Bahkan pada saat shalat jumat, nyaris kebanyakan toko di kota Banda Aceh ini tutup dulu untuk melaksanakan dan menghormati shalat jumat, dan baru dibuka beberapa menit setelah shalat jumat selesai.

Jangan khawatir kalau jalan-jalan di kota Aceh, meski kendaraan umum tidak sebanyak di pulau Jawa, banyak bentor (beca-motor) yang siap mengantarkan anda kemana saja. Hanya saja setelah kejadian Tsunami dan banyaknya warga asing masuk ke Aceh dari berbagai organisasi kemanusiaan (NGO dan LSM), standar harga barang-barang meninggi, yah pendek kata ongkos dan jajan disini mahal😀, tapi saat itu di kota Banda Aceh sendiri kondisinya aman banget, bisa dilihat dari masih banyaknya orang berlalu-lalang malam hari malah sambil bertelepon ria.

Meski sedikit terasa ironi bila menjadikan peninggalan bencana besar menjadi tujuan wisata, hal tersebut perlu dilakukan agar banyak orang mengingat dan mengambil pelajaran dari kejadian yang telah terjadi untuk menjadi lebih baik dan bersyukur. Hanya saja,(ini lagi-lagi masalah pengelolaan pariwista oleh pemda) infrastruktur, fasilitas penunjang kenyamanan untuk para wisatawan cenderung tidak dipersiapkan dan dikelola secara matang, lihat saja akses menuju PLTD apung dan tugu Tsunami di Gampong Lampulo yang harus melalui jalan yang sempit dan bahkan di tugu Tsunami untuk parkir pun susah. Padahal tidak hanya wisdom saja yang berkeinginan untuk menyaksikannya, tapi banyak juga wisman yang datang berkunjung. Potensi pendapatan dari wisata ini tidak kecil lho padahal.

Jangan lupa, bila cuaca sedang bagus, menikmati sunset di pantai Lhoknga bisa jadi memberikan kesan istimewa tersendiri.

ditempuh pada : 2010

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: